Bu, kenapa harus aku ?!
Hanya itu kalimat yang mampu aku ucap disaat kau menangkap basah diri ini yang tengah menangis selepas sujud ku.
Karena hanya kau yang mampu, nak.. Jawab mu..
Sesaat tangis ku kembali pecah, rasa nya ingin ku lepaskan semua sesak di dada. Tapi, lidah ku terlalu keluh untuk mengeluh.
Seperti biasa, pelukan mu selalu menjadi sumber kekuatan ku.
Dalam isak tangis, hati ku berkata. Bu, andai saja kau tau yang sebenar nya..
Perlahan kau lepaskan pekukan mu, dan bertanya. "Apa yang terjadi nak ?!"
Kenapa semua seakan tiada habis nya bu ?! tanya ku kembali pada mu.
Karna Allah cemburu pada mu nak, Dia ingin kau selalu mengingat Nya, bukan hanya Dunia.
Jika tidak dengan cara ini, mungkin sekarang kau tidak akan bersujud sambil menangis kepada Nya.
Ah, bu..
Kau selalu saja mampu menenangkan ku.
Padahal, belum semua nya ku ceritakan padamu apa yang sebenar nya sedang aku hadapi.
Kau pun lanjut bercerita tentang hidup mu, sedang kan aku seakan masuk pada dimensi dalam cerita dan mencari mu. Aku ingin lihat, sedang apa kau bersama semua luka mu itu.
Sekejap aku tersadar saat kau belai kepala ku. Dan kau berkata " kuat lah nak, jalan mu masih panjang. Jika kau lelah, kau boleh istirahat... Tapi tidak untuk kata menyerah "
Lagi-lagi ucapan mu seperti busur panah yang menghujam jantung ku, seakan kau tau apa yang sebenarnya terjadi. Padahal tak ada ucapan yang keluar dari mulut ku tentang semua yang harus ku hadapi saat ini.
Kini aku sadar, seberapa pun umur ku. Bagimu aku tetaplah gadis kecil mu.
Bahkan di usia mu yang senja, kau masih saja memikirkan kebahagiaan ku.
Terima kasih bu...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar