Untukmu ibu,
Aku ingin bercerita sedikit
tentang perasaan ku, perasaan yang dulu hingga kini yang mungkin belum kau tau.
Tentang
diriku yang hidup berjauhan dengan mu, tentang waktu yang ku habiskan tanpamu,
tentang bahagia bersamamu yang ku rindu.
Ibu,
aku tau keadaan itupun bukan yang kau mau. Tapi saat itu bertahanlah yang dapat
kita andalkan, karna melawan keadaan bukanlah jawaban.
Ku
tau hidupku berbeda, menjadi dewasa tanpa bimbingan orang tua.
Sempat
juga ku merasa marah, merasa hidup tak bersama bembuatku tak bahagia.
Hari-hari
ku lalui, seadanya, dan sekuat yang aku bisa.
Terkadang
ku sedikit memaksa diri untuk bernilai lebih dimatamu, agar ada sedikit waktu
dari mu sebagai hadiah atas prestasi ku. Tak menuntut mu hadir, hanya berharap
ada sedikit ucapan selamat ter-ukir.
Sekali,
dua kali kulakukan. Ucapan itupun tak ku dapatkan.
Mungkin
aku terlalu kecil waktu itu, tertutup oleh bayang-bayang abang kakak ku.
Mungkin
juga ku cemburu, pada mereka yang lebih sering kau rayu saat apa yang mereka
mau tak bisa kau wujudkan.
Dendam
ku hadir, atas luka perasaan yang terukir. Hingga kau minta ku kembali, tak
semudah itu aku perduli. Namun lagi-lagi aku tak bisa melawan keadaan, ku ikuti
pinta mu dengan cara ku. Rumah tak berasa syurga waktu itu, hanya seperti
losmen tempat ku melepas lelah dikala malam hadir, dan kau pun tau itu.
Hingga
akhirnya kau pun pecah dengan tangis mu, merasa anak yang kini bersama mu
seakan bukan milik mu. Aku tau, semua ini bukanlah salah mu ibu..
Tapi
saat itu aku terlalu muda untuk memahami mu, egoku terlalu liar untuk sadar
bahwa semua tak seburuk yang selama ini ku fikirkan.
Tapi
kini ku mengerti, di saat kakiku beranjak berjalan maju menembus waktu dan pada
akhirnya berdiri tepat di posisi mu yang dulu (Menjadi seorang ibu). Ya,
seorang ibu yang akhirnya harus merelakan sebagian waktu nya berjauhan dari
(anak) buah hatiku.
Kejam
nya dunia yang aku rasa, tak sebanding dengan kejam nya dunia yang kau rasakan.
Bahkan,
dibandingkan luka mu. Luka ku tidak ada apa-apa nya.
Cibiran
orang yang kau dengar dahulu, kini berbalik pada ku. Soal anak yang ku titip
padamu, seakan siksaan hari tua yang ku beri untuk mu. Mereka menilai ku,
mereka menjudge ku tanpa tau apa yang sebenarnya terjadi kan bu…
Sungguh
pelajaran hidup yang dulu kau beri, kini begitu berarti.
Dulu
aku yang hampir tak pernah kau puji, mengajarkan ku kini untuk tak membenci.
Aku
malu, aku malu bu dulu sempat marah pada mu.
Melampiskan
kesalku dengan menyakiti perasaan mu.
Maafkan
aku bu,
Maafkan
aku dulu yang begitu angkuh
Merasa
semua sakit yang kurasa dulu karna salah mu.
Izinkan
aku berbakti pada mu, bu…
Bertanggung
jawab atas masa tuamu
Mungkin
ini takkan mampu menebus salahku
Tapi
kuharap do’a dan maafmu ikhlas untuk ku, selalu…
Aku
menyayangi mu, Ibu…

