Pengalaman
pribadi, menikah karena usia. Ya.. sejak zaman kuliah, sering kali menghadiri
undangan pernikahan. Baik itu pernikhan teman kuliah, teman kerja ataupun
keluarga. Sejak saat itu terbesit difikiran saya untuk menikah sebelum usia 25.
Ntahlah, ntah apa yang menjadi alasan saya saat itu. Yang pasti keinginan yang
slalu saya sematkan dalam do’a terkabul.
Tepat
3 bulan sebelum usia saya genap 25 tahun, saya di persunting seorang laki-laki
yang saya kenal cukup lama. Dan alasan itu pula yang menbuat saya yakin untuk
menerima nya menjadi teman hidup saya. Tak banyak yang saya tau soal
pernikahan. Hanya sedikit tau bahwa menikah itu penyempurna agama, dan pembuka
pintu rezeki. (**dan menjadi harapan kami)
Apakah saat itu saya bahagia ?!
Ya.. pasti..
Apakah mudah bagi saya untuk beradaptasi
pada pernikahan kami ?! Jawaban nya TIDAK
Karna
saya menikah karna usia. Tanpa ilmu dan kesiapan yang cukup matang dan banyak
hal lain tentang pernikahan yang saya tidak tau. Bahkan kami memulai pernikahan
kami tanpa tujuan dan belum tau mau dibawa kemana rumah tangga yang kami bina.
Ternyata
menikah bukan hanya soal waktu, tapi kesiapan dan ilmu sangat berpengaruh.
Seperti saya, yang akhirnya merasa ingin menyerah di awal pernikahan. Memang,
saya tidak sampai mengungkapkan rasa ini pada suami. Tapi tahun-tahun pertama
menikah buat saya merasa seperti terperangkap pada kehidupan yang bertebaran
banyak ranjau. Yang siap meledakan saya untuk tiap langkah yang salah.
Bukan,
ini semua bukan karna saya tidak bersyukur. Tapi karna memang saat memilih
untuk menikah saya tidak punya cukup bekal ilmu dan kesiapan untuk menghadapi
hari-hari baru. Menikah bukan soal hidup bersama dan happy ending di akhir
cerita, seperti novel-novel cinta yang banyak saya baca. Menikah adalah membagi
hidup kita pada orang baru dan menjalani nya bersama. Dan ini tidak akan mudah.
Tahun
pertama menikah, semua baik-baik saja. Meskipun sejujurnya banyak hal baru yang
masih sulit untuk saya terima. Ego masih tinggi bahkan hormon saat hamilpun
menjadi unjian baru.
Tahun
kedua, kembali berbagi hidup dengan orang baru. Bukan hanya dengan suami tapi
sudah ada anak yang kini hadir. Babyblues bukan lagi, rasa nya sulit untuk
berdamai pada diri sendiri sejak lahirnya malaikat kecil kami. Perubahan berasa
begitu nyata dan begitu cepat. Siap tidak siap harus di jalani.
Tahun
ketiga rasanya hampir membuat saya gila. Hilang nya rasa percaya diri, insecure
semakin menjadi-jadi. Tak jarang hal kecil menjadi konflik rumah tangga kami.
Hingga banyak hal tentang anak yang rasa nya membuat kepala saya ingin pecah.
Tapi apakah lantas saya menyerah ?! Tentu tidak. Akhirnya waktu menyadarkan
saya, bahwa semua ini terjadi karna kurang nya kesiapan dan ilmu dari diri saya
dan suami. Kami hampir lupa menetapkan tujuan dari rumah tangga kami. Yang
membuat hubungan ini berjalan tanpa arah walau ada nakhoda.
Hingga
di awal tahun keempat pernikahan, Allah tunjukan saya satu jalan. Bergabung
pada salah satu komunitas yang MasyaAllah akhir nya merubah sudut pandang saya
terntang pernikahan. Dan menyuguhkan banyak ilmu tentang kehidupan berumah
tangga. Belajar tentang potensi diri, memahami maksud dan tujuan saya ada di
muka bumi serta hal lain yang berkaitan tentang maksud dan tujuan kita hidup di
dunia sebagi “agent of chage”.
Disini
saya tau, bahwa tak seharusnya menikah hanya karena usia. Berapapun usia mu
jika kau sudah cukup ilmu dan kesiapan dalam berumah tangga, semua akan menjadi
mudah. Karna sebelum memulai berbagi hidup dengan orang baru, sudah seharusnya
kau tau lebih dulu apa yang menjadi potensi dalam dirimu, apa tujuan hidup mu
dan kenapa kau ada di muka bumi ini. Dengan begitu kau akan bertemu dengan
orang yang cocok untuk mu dan lebih mudah untuk mu memulai hidup baru bersama
nya.
Karna
menikah itu adalah perubahan. Jadi jika konflik yang terjadi karna kau merasa pasangan
mu berubah atau sebalaik nya, ya karna itulah hakikat nya menikah. Berubah
sesuai dengan tujuan yang telah disepakati bersama. Jika kau punya ilmu dan
kesiapan, ini semua akan menjadi lebih mudah.
Mungkin
tiap orang punya arti atau pengalaman yang berbeda tentang pernikahan dan
berumah tangga. Tapi yang dapat saya share kali ini hanyalah sedikit cerita
dari sudut pandang dan pengalaman saya. Semoga tulisan ini bermanfaat. Dan semoga
ada hal-hal baru yang dapat saya bagikan kembali lewat tulisan saya. Aamiinn...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar